Menilik kembali isi kandungan Al-qur’an

Oleh Nur’aeni

Kitab suci Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat manusia untuk mengatur hidupnya agar bisa mencapai tujuan yang taqwa. Menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Akan tetapi, terkadang hidup kita seakan jauh dari apa yang diharapkan oleh kandungan-kandungan mulia yang terdapat pada al-Qur’an itu sendiri. Kita seakan acuh, tak mau mempelajari, tak mau mengenali lebih dekat untuk mempelajari segala isi kandungan yang termuat di dalamnya. Kita hanya menelan mentah secara tekstual tanpa mengkaji lebih dalam khasanah ilmu al-Qur’an yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya al-Qur’an benar-benar mengandung banyak keistimewaan yang luar biasa bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Kita harus mengetahui bahwa al-Qur’an itu mempunyai eksistensi untuk melengkapi risalah ketuhanan. Ia bersifat abadi, universal, komprehensif, utuh dan tidak bertentangan. Dan fungsinya pun dijadikan sebagai petunjuk dan pelajaran bagi umat manusia. Manusia di dalamnya termasuk laki-laki dan perempuan tentunya.

Kita sebagai seorang pembelajar harus terus meningkatkan semangat kita untuk terus belajar dan mempelajari segala ilmu yang berkaitan dengan aspek kehidupan ini. Karena ternyata ilmu diluaran sana masih sangat banyak yang belum kita pelajari. Sehingga kita harus terus mempelajari dengan segala banyak cara untuk mendapatkan ilmu-ilmu tersebut. Tanpa memiliki ilmu yang memadai dan mumpuni kita akan mudah terjerumus ke dalam kesalahan yang tiada ujungnya, sehingga ketika munculnya suatu persoalan ditengah-tengah kehidupan, kita langsung begitu saja menjustifikasi ini salah yang itu benar tanpa menklarifikasi esensi permasalahan yang terjadi. Kita terlalu cepat menghakimi, terlalu cepat mengkritik tanpa mempelajari ilmunya lebih dulu.

Ilmu Al-Qur’an sangatlah luas, ia pun mempunyai dua visi yang mana ia sangat menentukan kualitas kehidupan kita ditengah-tengah persoalan yang terjadi, al-qur’an hadir sebagai suatu kerahmatan bagi alam semesta dan merupakan kitab yang bisa membuat orang yang mempelajarinya itu memiliki budi pekerti yang luhur. Jelas sekali disini, bahwa Islam hanya menghendaki suatu bentuk kasih sayang/rahmat dan budi pekerti yang luhur yang dimana dengan itu semua akan membawa ketentraman dalam hidup umat beragama.

Bisa dikatakan sebagai catatan untuk diri sendiri bahwasanya setiap keputusan yang tidak membawa rahmat/kasih sayang bukanlah yang dikehendaki oleh Islam. Atas nama apapun itu. dan juga hal-hal yang tidak menunjukkan budi pekerti luhur itu pada hakikatnya belum sejalan dengan Islam. Jadi, kita selaku seorang pembelajar dan penikmat kehidupan harus melakukan suatu koreksi terhadap diri sendiri dan bertanya pada hati nurani kita sudahkah kita menanamkan sifat kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaan Allah Swt? Sudahkah kita mempunyai budi pekerti yang luhur sebagai bentuk kesetiaan kita terhadap agama yang kita anut yaitu Islam.

Dalam kehidupan manusia tentunya kita harus mengenal bagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan itu, karena prinsip-prinsip kemanusiaan pun terkandung di dalam al-qur’an. Prinsip-prinsip kemanusiaan diantaranya bahwa manusia itu mempunyai prinsip kebebasan (Al-Hurriyah), artinya manusia ketika dilahirkan ia sudah menjadi manusia yang merdeka, yang tidak lagi terkungkung dalam ketidakbebasan yang membatasi gerak geriknya dalam batasan ruang dan waktu yang tidak membebaskan dirinya untuk melakukan pengembangan diri dalam hidupnya.

Kedua, prinsip kemanusiaan berikutnya yaitu kesetaraan (Al-Musawah). Maksudnya, Al-qur’an itu berisikan tentang prinsip ketauhidan yang dimana segala apa yang maha tinggi, maha besar, maha kuasa dan maha dari segala maha tiada lain hanyalah dimiliki oleh Allah Swt semata. Selain Allah, semuanya setara. Hanya Allahlah satu-satunya yang paling hebat. Seperti itulah prinsip tauhid yang meniscayakan kesetaraan manusia. Jadi, jika diantara kita yang masih merasa dirinya paling benar, paling dari segala paling maka sesungguhnya kita telah mengingkari prinsip kemanusiaan tentang kesetaraan yang ada pada prinsip ketauhidan yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Ketiga, prinsip persaudaraan (Al-Ukhuwah), “Innamal mu’minul ikhwaana” : sesungguhnya orang-orang yang percaya pada Tuhan adalah bersaudara. Kita semua makhluk ciptaan dari Tuhan yang sama, dan diciptakan pula dari satu hal dan proses yang sama. Untuk apa kita saling memusuhi satu sama lain, saling membenci, beradu domba, sikut sana sikut sini, saling menjatuhkan, padahal pada hakikatnya kita semua adalah bersaudara. Sesama saudara seharusnya harus bisa saling memahami, saling menyayangi, saling memperingati, jika salah dibenarkan, jika belok ya diluruskan. Indah terasa jika persaudaraan itu terjalin dengan baik dan jika ada permasaqlahan yang terjadi selesaikan dengan baik tanpa perlu menimbulkan perpecahan sehingga perpecahan yang terjadi akan terus beranak pinak menjadi perpecahan berikutnya yang tiada akhirnya. Sehingga semakin membuat kehidupan kita menjadi kacau balau tak karuan. Seperti tak bersolusikan. Entah apa yang mesti dilakukan lagi.

Keempat, prinsip tentang keadilan (Al-‘Adalah). Keadilan itu mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita bisa melihat keadilan itu tergantung dari perspektif apa yang kita gunakan. Jika saat ini kita sedang belajar gender. Tentunya keadilan gender harus terus ditegakkan karena memang keadilan itu sendiri pada dasarnya terkandung dalam ajaran agama islam. Adil gender berbicara tentang hak-hak dasar manusia baik laki-laki atau pun perempuan harus mendapatkan keadilan yang sama. Misalkan, kita sebagai manusia tentunya ingin hidup berpasangan dengan lawan jenis yang kita kehendaki. Ketika kita sudah memilih untuk hidup bersama maka perlakukanlah pasangan kita dengan seadil mungkin, jangan sampai atas dasar agama kita berbuat tidak adil kepada pasangan kita. Terutama seorang istri yang harus menerima dirinya di poligami dengan alasan yang diberikan oleh suaminya untuk menjalankan syariat islam dan mengikuti Sunnah rasul. Hal itu tidaklah dibenarkan. Karena dalil yang selama ini digaungkan oleh para pecinta poligami itu jika dilihat dari asbabun nuzulnya adalah bukan perintah untuk melakukan poligami. Melainkan perintah untuk memberikan keadilan terhadap perlindungan anak yatim bukan untuk berpoligami. Cobalah kita membuka mata dan hati kita, apakah dengan berpoligami bisa berlaku adil dengan para istrinya?  Seadil-adilnya suami terhadap para istrinya belum tentu hati kecil seorang istri menerima kenyataan yang diterimanya. Disitulah keadilan untuk seorang istri masih dipertanyakan. Dengan alasan atas nama syariat yang dimana seorang istri terpaksa harus menerimanya meski sakit hatinya.

Sudahlah! jika ingin berlaku adil maka tak perlu untuk melakukan poligami, tetaplah menjaga cinta dan kasih untuk satu orang istri saja tanpa perlu dibagi kepada perempuan lain. Satu istri saja keadilan masih dipertanyakan, apalagi lebih dari satu. Jika memang untuk mengikuti Sunnah Rasul, Sunnah rasul yang seperti apa, karena jika dilihat dari sejarahnya Rasul itu tidak mengajarkan untuk berpoligami, Rasul menghabiskan waktu bersama istrinya Siti Khodijah selama 28 tahun sampai dengan wafatnya siti khodijah. Selama ia menikah dengan Siti Khodijah ia tidak pernah menikahi perempuan lain. Lalu setelah sepeninggalnya Siti Khodijah ia tidak mempunyai istri lagi sampai dengan 2 tahun lamanya. Ia tidak langsung menikahi perempuan lain. Betapa setianya Rasulullah itu. Ia tidak ingin menyakiti hati istrinya. Akan tetapi, setelah 2 tahun lamanya barulah ia menikah lagi dengan perempuan lain dan saat itu Rasulullah sudah memasuki masa tuanya dan pilihan untuk menikah lagi bukanlah karena orientasi seksual melainkan untuk menjaga kehormatan orang lain.

Mayoritas perempuan yang dinikahi oleh Rasulullah pun janda-janda yang sudah tua. Kalaupun ada Siti Aisyah itu juga atas permintaan sahabatnya sayyidina Abu Bakar untuk meminta Rasul menikahi anak gadisnya. Sekiranya itulah singkat cerita perjalanan cinta Rasulullah. Jadi, antara masa monogami dan masa poligami lebih lama masa monogaminya. Jadi, jika ada seorang suami yang ingin menikah lagi atas nama Sunnah Rasul, Sunnah Rasul yang mana yang ia ikuti. Karena Sunnah Rasul itu banyak. Kalau pun iya mau berpoligami, berakhlaklah seperti layaknya Rasulullah terlebih dahulu. Tapi hal itu tidaklah mungkin. Oleh karena itu, tetaplah setia dan adil terhadap satu pasangan saja, hal itu lebih baik.

 Kelima adalah prinsip tentang penghormatan kepada manusia (Karomah Al-Insan). Allah menjadikan manusia ini sebagai makhluk terhormat yang dimana ia mempercayai manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Oleh karena kita tidak sepatutnya untuk membenci makhluk ciptaanNya. Karena melukai ciptaan Allah berarti pula melukai Allah secara tidak langsung. Allah saja menjadikan manusia sebagai makhluk terhormat mengapa manusianya tidak demikian?

Menurut pemaparan yang disampaikan bahwa alqur’an itu merupakan kitab yang menjadi sumber dari segala sumber keilmuan.  Orang yang mempelajari alquran dengan baik maka ia akan tahu bagaimana untuk memperlakukan makhluk ciptaan Tuhannya dan bagaimana ia mengkondisikan hidupnya dengan sebaik mungkin demi untuk keberlangsungan hidup yang aman, tentram, dan damai.Satu pesan saja, jangan berhenti belajar.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pengembangan masyarakat Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon

 

#Catatan Short course – Kamis, 25 Mei 2017

 

Advertisements

SHORT COURSE ISLAM DAN GENDER

TEMA :

“MENGEMBANGKAN PERSPEKTIF MUBAADALAH (RESIPROSITI DALAM KAJIAN KEISLAMAN ADIL & GENDER”

Hari, Tanggal            : Selasa, 23 Mei 2107

Pemateri 1                  : KH Marzuki Wahid

Peserta                        : 25 orang

Oleh                            : Nur’aeni

Instansi                       : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

 

APA ITU GENDER?

Gender merupakan suatu ilmu yang masuk ke dalam kategori ilmu social dan budaya yang membicarakan tentang ciri-ciri laki-laki dan perempuan yang diperoleh dari hasil kontruksi social. Dalam hal ini, gender bersifat tidak permanen atau bisa dirubah sesuai kemauan dan juga bisa dipertukarkan perannya baik oleh laki-laki ataupun perempuan.

KENAPA GENDER ITU MUNCUL???

Para ilmuwan social seperti halnya Karl Mark, Mark Weber, Emil Durkheim, Antonio-Gramsci telah menjelaskan teori sosialnya mengenai bentuk ketidakadilan yang terjadi. Akan tetapi, mereka belum menganalisa tentang relasi social antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, munculnya teori gender sebagai pelengkap teori-teori social sebelumnya yang dimana di dalam gender itu sendiri menjelaskan tentang pembahasan bagaimana relasi laki-laki dan perempuan yang berkeadilan. Gender merupakan sebuah ilmu yang bersifat ilmiah.

SEX DAN GENDER???

Sex dan gender mempunyai arti yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Jika ada yang mengartikan bahwa sex dan gender adalah sama maka hal itu masih sangat keliru. Oleh karena itu, sebelum memahami lebih dalam tentang gender, harus memahami terlebih dahulu apa itu sex dan apa itu gender agar tidak terjadi kesalah pahaman. Dalam hal ini bisa dilihat bagaimana ciri-ciri laki-laki dan perempuan berdasarkan sex dan berdasarkan gender, sebagai berikut :

Berdasarkan Sex

 Laki-laki

Perempuan
Penis Vagina
Sperma Rahim
Jakun Ovum
Hormon Testoteron Hormon Progesteron
Testis Hormon Estrogen
Clitoris

Berdasarkan Gender

Laki-laki

Perempuan

Kuat Lemah
Berani Pemalu
Rasional Baper
Superior Inferior
Banyak masuk surga Banyak masuk neraka
Pemimpin Makmum
Publik Domestik

Jadi, dari table di atas menjelaskan bahwa sex adalah ciri-ciri laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis biologis yang sifatnya fisik, kodrati, tidak bisa dipertukarkan, pemberian Tuhan, dan universal. Sedangkan gender sendiri menjelaskan jenis kelamin social yang sifatnya bisa dipertukarkan, karena hasil dari kontruksi social, budaya, bukan sebagai kodrat dan gender berkaitan erat dengan peran, sifat dan perilaku yang bisa dirubah.

Fasilitator pun memunculkan pernyataan yang berbunyi demikian :

“Jender pada dasarnya tidak perlu dipermasalahkan kecuali menimbulkan ketidakadilan”.

Bentuk-bentuk ketidakadilan dalam gender terbagi menjadi 5, diantaranya :

  1. Subordinasi (tidak diutamakan)
  2. Marginalisasi (terpinggirkan)
  3. Steorotip (pelabelan negative)
  4. Double burdens (beban ganda)
  5. Kekerasan (fisik, psikis, sexual, ekonomi)

MENGAPA KITA PERLU MEMAHAMI GENDER ?

Karena dalam kehidupan social sehari-hari tidak terlepas dari relasi laki-laki dan perempuan.

SEX DAN SEKSUALITAS

Secara etimologi, sex adalah alat kelamin. Sedangkan seksualitas merupakan konsep yang luas, meliputi beragam aspek atau bisa juga suatu isu yang masih sensistif karena diartikan/dipahami secara berbeda-beda. Seksualitas itu sendiri meliputi :

  • Birahi
  • Identitas seksual
  • Orientasi seksual
  • Ekspresi seksual
  • Perilaku seksual
  • Kesehatan seksual

ORIENTASI SEKSUALITAS

Orintasi seksualitas merupakan sebuah pilihan seksual yang beragam. Model bentuknyapun beragam. Biasanya orientasi seksual itu lebih berkaitan bagaimana untuk memuaskan seksualitas dirinya. Ada beragam jenisnya seperti halnya para LGBTIQ (Lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, Queer.

POLA PERUBAHAN PERAN GENDER

Pola perubahan gender menurut pemaparan yang disampaikan oleh fasilitator adalah sebagai berikut tabelnya :

Masyarakat Tradisional-Konvensional (dikotomis) Modern (Fleksibel)
Pola Kerja Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Publik Ya Tidak ya Ya
Domestik Tidak Ya ??? Ya
Produksi Ya Tidak Ya Ya
Reproduksi Tidak Ya ??? Ya
Komunitas Ya Ya ??? Ya

 

ASPEK-ASPEK KEADILAN GENDER

Dalam kajian gender, terdapat 4 aspek di dalamnya yang berkaitan dengan keadilan gender, diantaranya :

  • Akses
  • Partisipasi
  • Kontrol
  • Manfaat

PELEMBAGAAN & PELANGGENGAN KETIDAKADILAN GENDER

Seperti yang sudah dinyatakan oleh fasilitator bahwa gender tidak perlu dipermasalahkan terkecuali menimbulkan suatu ketidakadilan. Ketidakadilan gender tentunya berkaitan dengan kontribusi-kontribusi yang sifatnya umum yang dimana hal tersebut berjalan secara tersistem dan terstruktur yang satu sama lain saling berkaitan. Kontribusi-kontribusi tersebut bisa berupa penafsiran teks agama yang salah menafsirkan, kebijakan public, budaya patriarki, Pendidikan, dan sebuah idiologi kapitalisme pun sangat berkontribusi sekali terhadap terjadinya ketidakadilan gender tersebut. Sehingga pemahaman masyarakat terhadap gender itu menjadi bias. Oleh karena itu, agar tidak terjadi bias gender kita bisa memulai dari diri kita dan dimulai dari lini yang terkecil yaitu keluarga. Sebagai bentuk atau perilaku yang tidak bias terhadap gender, maka dari itu solusinya bisa dengan menjadikan sebuah keluarga yang bermitrakesetaraan. Artinya hal-hal yang berkaitan dengan kerja produktif dan kerja reproduktif itu bersifat seimbang antara laki-laki dan perempuan. Tentunya harus dilalui dengan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati bersama.

FEMINIS/FEMINISME

            Seperti yang telah kita ketahui bahwa ketidakadilan gender itu kebanyakan terjadi pada perempuan. Hal tersebut tentunya disebabkan karena kontruksi-kontruksi social yang sudah lama terbentuk di benak masyarakat sehingga menjadi sebuah paradigma yang sifatnya general atau umum. Ketidakadilan tersebut bahkan nyaris perempuanlah yang lebih banyak disalahkan dibanding laki-laki. Oleh karena itu, muncullah gerakan yang dinamakan feminis sebagai bentuk untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang hilang agar kembali mendapatkan keadilan dan tidak terus menerus mengalami ketertindasan.

            Feminis berupa gerakan yang idiologinya disebut dengan feminisme. Feminisme itu sendiri terbagi menjadi berbagai aliran. Aliran-aliran yang dipaparkan oleh fasilitator adalah sebagai berikut :

  • Feminisme Marxis
  • Feminisme Radikal
  • Feminisme Sosialis
  • Feminisme Kontemporer
  • Feminisme Muslim

Jadi, idiologi feminisme itu tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti dengan aliran-alirannya. Ketika kita hanya mengenal bahwa gerakan feminis itu radikal dan turunan dari barat maka hal itu tidaklah disalahkan. Karena memang ada feminisme yang sifatnya radikal. Tapi, kita sebagai seorang pembelajar jangan langsung menggeneralkan bahwa semua feminis itu gerakannya radikal. Kita harus melihat bahwa ada seorang tokoh seperti Musda Mulia, dia seorang feminis muslim dimana ia tidak menghilangkan suatu idiologinya sebagai seorang muslim. Ia tetap menjunjung tinggi keislamannya dengan cara berpakaian yang ia kenakan sebagai salah satu identitas kemuslimannya.

Itulah catatan untuk pembelajaran hari ini. Saya merasa senang sekali bisa mengikuti pelatihan islam dan gender ini. Ini merupakan kesempatan luar biasa bagi saya. Dengan mengikuti pelatihan ini, pemahaman negative mengenai gender menjadi berkurang. Awal saya mendengar kata gender langsung berpikiran bahwa gender itu produk barat dan pasti gerakannya radikal. Tapi, setelah mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh Bapak KH Marzuki Wahid dengan metode yang begitu sederhana dan tersistematis menjadikan diri saya semakin ingin lebih memahami tentang gender agar tidak lagi salah memahami. Terlebih lagi disini dijelaskan bahwa gerakan feminis sebagai gerakan untuk menuntut ketidakadilan itu tidak hanya yang bersifat radikal saja, melainkan aliran feminis itu sendiri terbagi-bagi lagi dan salah satu alirannya ada yang dinamakan aliran feminisme muslim. Sebelumnya aku penasaran sebenarnya gerakan feminis yang dianut oleh Pak Marzuki itu feminis apa. Eh ternyata diakhir ada penjelasan mengenai feminis muslim. Saya kira jawabannya sudah terjawab di dalam materi yang disampaikan tersebut.

Lalu, jika berbicara soal keganjalan, tentunya ada yang masih mengganjal dalam benak pikiran saya tentang kesetaraan gender itu sendiri. Selama gerakan-gerakan feminis itu ada, apakah teriakan mengenai kesetaraan gender itu sudah terjadi dan akan terjadi menjadi setara antara laki-laki dan perempuan??? lalu terkadang ada orang yang salah memahami arti gender itu sendiri, sehingga ketika ia mempelajari gender yang ada bukanlah kesetaraan yang terjadi, justru salah satu diantara laki-laki dan perempuan itu ada yang masih tertindas. Contohnya perempuan menjadi semakin ngelunjak kepada laki-laki. Dan hanya menuntut keadilannya saja tanpa memperhatikan keadilan laki-laki itu sendiri.

Yang harus dilakukan oleh diri saya adalah terus mempelajari kajian tentang gender lebih mendalam agar tidak terjadi lagi yang namanya bias gender dalam kehidupan social masyarakat. Setelah sudah mulai memahami secara mendalam selanjutnya bisa disosialisasikan kajian gender ini kepada masyarakat umum.

Mengenai evaluasinya mungkin tentang kepesertaan yang lebih didominasi oleh perempuan. Sebaiknya dalam pelatihan gender yang seperti ini akan lebih baik lagi jika pesertanya seimbang antara laki-laki dan perempuan agar pembelajaran dan pemahaman tentang gender akan lebih sempurna dan lebih mudah untuk bisa membangun bentuk keadilan gender antara laki-laki dan perempuan.

Terima kasih…

Masih terus berproses ….

Konsep kebijakan dan pembangunan

Kebijakan : kerangka kerja dan pedoman tindakan yang tidak terarah.

Pembangunan : implementasi dari kebijakan dalam bentuk program dan proyek agar tercapai tujuan-tujuan pembangunan yang telah ditetapkan . (Suharto, 2015)

Dari adanya kebijakan akan menghasilkan suatu pembangunan yang salig berkaitan antar keduanya.. Pembangunan itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu :

  • Pembangunan sosial
  • Pembangunan ekonomi

Pembangunan sosial seperti halnya dalam hal kesehatan, sanitasi lingkungan, PKH, dll

Pembangunan ekonomi seperti halnya untuk meningkatkan suatu stabilitas ekonomi yang baik.

Namun sayangnya suatu penyelenggara masyarakat terjadi error.

Kebijakan itu bersifat normatif.

  • Tujuan pembangunan : memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
  • Implementasinya dengan cara melibatkan dan menyentuh langsung kepada masyarakat berupa pelayanan-pelayanan sosial (yang diselenggarakan oleh pemerintah spt program PKH)
  • Petunjuk atau arah tehadap pelaksanaan strategi-strategi pembangunan disebut kebijakan.
  • Suharto : 2015 mengutip pendapat conyers dan hills 1989, jameson dan Wilber, 1979.
  • Pembangunan adalah proses memajukan atau memperbaiki suatu keadaan melalui berbagai tahap secara terencana dan berkesinambungan.

Kebijakan sosial 

Sosial dalam arti :

Generic :

bidang/sector pembangunan yang menyangkut aspek manusia dalam konteks masyarakat/kolektifitas.

Spesifik :

Sector kesejahteraan sosial sebagai suatu bidang atau bagian dari pembangunan sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan manusia yang kurang beruntung dan rentan.

Titmus, 1974

Kebijakan : prinsip-prinsip yang mengatur tindakanyang diarahkan pada tujuan-tujuan tertentuyang berorientasi pada masalah dan berorientasi kepada tindakan.

Kebijakan sosial :

Pendapat beberapa ahli :

  • Magill (1986) ; kebijakan sosial merupakan bagian dari kebijakan public. Kebijakan public adalah kebijakan yang berasal dari pemerintah, seperti : kebijakan ekonomi, kesehatan, pendidikan, transportasi, keamanan dll. Kebijakan sosial merupakan tipe kebijkan publikyang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial
  • Marshall (1965) ; kebijakan sosial adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan tindakan yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan warga negara melalui penyediaan pelayanan sosial atau bantuan keuangan
  • Rein (1970) kebijakan sosial : perencanaan untuk mengatasi biaya-biaya sosial, peningkatan pemerataan dan pendistribusian dan pelayanan sosial
  • Huttman (1981) : kebijakan sosial artinya strategi-strategi, tindakan-tindakan atau rencana-rencana untuk mengatasi masalah sosial dan memenuhi kebutuhan sosial.

Menekankan pada tiga ranah :

  • Proses
  • Produk
  • kinerja/capaian

Tingkatannya :

Assessment kebutuhan, penetapan alternative tindakan, penyeleksian strategi, evaluasi implementasi kebijakan

 

  • Spicker (1955 : kebijakan sosial adalah kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan (welfare), baik dalam arti luas, yang menyangkut kualitas hidup manusia, maupun dalam arti sempit yang menunjuk pada beberapa jenis pemberian pelayanan kolektif tertentu guna melindungi kesejahteraan rakyat
  • Hill (1996) kebijakan sosial adalah studi mengenai peranan negara dalam kaitannya dengan kesejahteraan warganya.

 

Prinsip Dasar dan Penelitian yang Baik

Penelitian dalam artian yang sesungguhnya merupakan bagian integral dari kegiatan ilmiah dan keilmuan. Hal ini dikarenakan bertujuan mencari kebenaran, diperlukan identifikasi keteraturan dan pernyataan-pernyataan tentang penyamarataan yang sahih mengenai keteraturan tersebut.
Adapun tujuan lainnya yaitu untuk melakukan penggambaran, penelaahan, penjelasan, hingga penyelesaian atas suatu persoalan yang dihadapi dalam masyarakat, dalam pengertian praktis dan teoritisnya (bukan pragmatis).
Penelitian merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan bahan, pengamatan terhadap realitas, dan analisa terhadap bahan dan hasil pengamatan tersebut. Demikianlah hakikat penelitian dalam fungsinya sebagai kegiatan pengembangan ilmu.
“Jika seorang akademikus hanya memikirkan kedudukan demi memperoleh kesejahteraan, dan mengabaikan penelitian, …… maka paling banter dia itu hanyalah seorang ‘pedagang eceran’ | yang dijual adalah pikiran orang lain “
(Kalidasa, Poem from the Sanskrit)
Diantara kunci membangun kelembagaan ilmiah (riset) yang kuat adalah memulai segala sesuatu dengan motivasi yang lebih luas dari pada hanya ingin mendapat imbalan uang. Uang akan menyusul kegiatan akademis yang serius dilakukan. Jika pun ada uang, tidak berarti bisa melahirkan kegiatan ilmiah yang bermutu. Tidak sedikit karya ilmiah yang baik, lahir dari kondisi tanpa kemewahan ; uang, waktu dan fasilitas. Sebab, penelitian adalah aktifitas fikiran, sehingga penelitian yang baik dapat dilakukan tanpa ketersediaan buku atau uang. Penelitian menyaratkan pemikiran sistematis tentang beragam persoalan yang menuntut solusi melalui pengumpulan dan interpretasi akan fakta-fakta. Memodali diri dengan ide-ide/gagasan dan berjejaring komunitas ilmiah maupun non akademis adalah awal yang tepat.
Keberhasilan penelitian dapat dilihat dari proses dan hasilnya. Dan juga dilihat dari hasil laporannya. Penelitian tanpa laporan dinilai tidak ada artinya. Hal ini mengingat bahwa yang dihasilkan dari penelitian adalah bangunan pengetahuan (body of knowledge) yang dapat dikomunikasikan dan dapat diverifikasi oleh orang lain, sehingga laporan tekstual ataupun lainnya menjadi sangat penting. Mengingat dalam tahapan tertentu semua orang pada dasarnya adalah peneliti, maka tidak semua praktik penelitian menjadi aktifitas formal.
Adapun penelitian yang baik menurut Prof. BenjMin White adalah sebagai berikut :
1. Perlu dibedakan pemahaman mengenai riset dengan kegiatan pengumpulan informasi lainnya seperti jurnalistik, evaluasi proyek atau kegiatan rutin statistik yang dilakukan pemerintah. Kegiatan riset menekankan pada pertanyaan “mengapa ” (why) dan “bagaimana” (how), bukan “apa” (what) dan “berapa banyak” (how many) sebagaimana kegiatan pengumpulan informasi lain. Hal ini sebab dan tujuan penelitian adalah “menjelaskan data”, bukan hanya “mendeskripsikan data”.
2. Penelitian adalah kegiatan dengan “sistem pemikiran terbuka”: tisaklah hanya bertujuan hendak menyetujui atau tidak menyetujui sesuatu, namun beraikap terbuka terhadap informasi dan kesimpulan yang bahkan tidak diduga dan diharapkan semula. Penelitian yang baik adalah : Bersikap kritis : menilai keterandalan data (reliability), validitas dan relevansinya. Melakukan generalisasi : contoh/ kasus spesifik untuk menjawab pertanyaan besar, sembari berhati-hati atas generalisasi tersebut. Menghormati prinsip-prinsip dasar etika penelitian : etika terhadap kelompok yang diteliti, kelompok komunitas ilmiah, dan masyarakat luas.
3. Membuat pertanyaan penelitian yang baik. Penelitian empiris yang baik selalu dipandu dengan pertanyaan penelitian. Tidak ada penelitian tanpa pertanyaan (rumusan masalah). Ia ibarat misteri atau enigma, maka penelitian adalah usaha keras untuk memecahkannya. Pertanyaan Penelitian mengarahkan skup penelitian, tema, fokus pemikiran, dan organisasi penelitian.
Dari pertanyaan penelitian akan terlihat pengorganisasian riset, arah dan koherensinya, serta batas-batas riset. Ajuan pertanyaan yang baik adalah separoh dari jawaban. Pertanyaan penelitian yang baik mengarahkan data apa yang diperlukan untuk dijawab, sebaliknya “silly question get silly answer”.
Pertanyaan penelitian yang baik adalah :
  • Meletakkan isu subtansi sebelum isu metodis dan teknik. Jelas : jelas dan mudah dipahami, tidak ambigu, bisa dijawab secara deskriptif dan bukan analitis. Spesific : pertanyaan haruslah tidak terlalu umum. Dapat dijawab (answerable) : ajuan pertanyaan haruslah mengandung pernyataan yang bisa dijawab oleh informan atau data yang diperoleh. Dapat dikerjakan (feasible) ajuan pertanyaan haruslah terbayangkan bahwa data akan dapat (mudah) diperoleh.
4. Nilai dan etika penelitian. Etika penelitian biasanya terbagi dalam tiga kategori : kepada mereka yang dikaji, kepada komunitas ilmiah, dan kepada masyarakat luas.
Hubungan antara peneliti dengan mereka yang diteliti haruslah berprinsip sebagai berikut:
Seijin/sepertujian mereka baik menyangkut tujuan dan konsekuensi yang akan terjadi. Relasi keduanya berprinsip menghargai dan menjaga privasi mereka (anonym atau pseudonym adalah salah satu caranya).
Tidak menyakiti dan atau berakibat membahayakan mereka (do no harm) seperti menghina, mempermalukan, melakukan tindakan yang berakibat nerugikan mereka.
Kepada masyarakat luas mengedepankan etika yang tidak mendukung bias nilai, seperti kekerasan, seksis, elitis bias kekuasaan dan sebagainya.
Terhadap komunitas ilmiah, terdapat “7 (tujuh) jangan” yang harus dihindari :
  • Mencuri melalui plagiasi (menyatakan bahwa pekerjaan, ide, data, hasil orang lain adalah miliknya)
  • Berbohong dengan cara sengaja melaporkan secara salah atas sumber- informasi atau menciptakannya sendiri (memasak informasi, menghias, dan menempanya)
  • Sengaja merusak sumber dan data
  • Memasukkan data yang seakan akurat sehingga memungkinkan ia mengajukan pertanyaan
  • Menyembunyikan keberatan/ kelemahan yang sekiranya tidak dapat dirubah “Mengkarikaturalkan” keberatan/ kelemahan itu dengan cara mengajukan pandangan berlawanan, atau secara bebas menyatakan pandangan keberatan tersebut agar mudah dibantahnya
  • Mengaburkan informasi secara sengaja, misalkan dengan membuat kesulitan pembaca untuk memahaminya Uraian atas “penelitian yang baik” d tersebut tidak bisa dipahami secara “tehnikal”, sebab penelitian adalah aktifitas “saintific” sekaligus “seni”, yang mana aspek-aspek manusia sangat mempengaruhinya.

 

Sumber referensi : Luthfi, Ahmad Nashih ; 2012 ; Panduan Mutu Penelitian Terkendali ; Yogyakarta ; STPN Press bekerja sama dengan Penerbit Magnum

Percakapan Obrolan Berakhir

Ibuku Seorang Figur Utama dalam Hidupku

Luar biasa! Entah mengapa hari-hariku semakin bahagia. Terima kasih Tuhan. Aku melihat ibuku bahagia. Melihat kakak-kakakku bahagia. Melihat adik-adikku bahagia. Terlebih melihat ponakan-ponakan kecilku. Bahagiaku selalu bertambah. Mungkin itu yang dinamakan berkah. Yah semoga!
Aku pikir jerih payah ibuku dulu, kini mulai membuahkan hasil. Ibuku dulu, ketika anak-anaknya masih kecil, masih suka pada nangis, ngrengek, rebutan ini itu, minta ini itu selalu di sabarin dan dihadapin. Ibuku rela selama belasan tahun ga suka pergi kemana-kemana. Maksudnya disini dia lebih fokus bekerja mencari nafkah untuk anak-anaknya semenjak sepeninggal suaminya. Boro-boro ke mol, berwisata pun ibu ku hampir ga pernah. Meski aku lihat ibu- ibu yang lain suka pergi jiarah sana sini, wisata sana sini, belanja ini itu. Fokus ibuku hanya satu,
Bagaimana supaya anak-anak yang masih kecil itu bisa makan. Udah itu aja. Kalau pun dia mempunyai keinginan untuk menyenangkan dirinya sendiri dia lebih dulu melihat bagaimana keadaan anak-anaknya nanti jika ia hanya menuruti keinginannya saja. Anak-anaknya ga ada yang ngurus selain dia yang menanggung bebannya. Ibuku selalu menghilangkan egonya. 
Lihat sekarang, kini anak-anaknya sudah tidak banyak permintaan. Bahkan kini anak-anaknya berkeinginan bagaimana agar ibuku selalu bahagia dan bisa memenuhi keinginannya. Mau jiarah bisa, mau pergi kesana sini bisa. Itu karena anak-anaknya sudah tidak ada yang mengusiknya seperti dulu. Ibuku kini sudah terlihat bebas. Terlihat senang, semakin bersyukur.

Aku perlu mencontoh sifat ibuku. Tapi entahlah apakah ku bisa seperti dirinya yang begitu kuat, tangguh, sabar dan menerima segala hal yang terjadi pada dirinya. Aku bangga dilahirkan dari seorang ibu seperti ibuku. Semoga anak- anak lain pun demikian. Selalu membanggakan ibunya. Setiap anak tak heran jika bangga terhadap ibunya. Itu sudah menjadi keharusan. 
Banggalah terhadap ibumu kawan. Dan perhatikanlah bagaimana jurus-jurus andalan yang ia miliki dalam menghadapi sebuah permasalahan yang ada. Tirulah hal yang baik dari ibumu sendiri. Karena ibumu adalah figur terdekat yang bisa kamu jadikan sebagai idolamu. Jangan dulu yang lain… 
Berbahagialah selalu kawan…
Aku selalu berusaha untuk hidup bahagia meski terkadang bahagia ku semu. Dari kesemuan semoga menjadi bahagia yang sebenarnya…

Terima kasih Tuhan. 
Tak mampu lagi aku mengungkapkan kebahagiaanku ini. Jika aku terlalu berlebihan maafkan… 
Inilah aku yang terkadang suka lebay dan mengada-ngada.
Ampunkan…. 

Tapi sungguh kini aku bahagia…..
Semoga orang yang berada didekatku pun selalu merasakan kebahagiaan dan berusaha untuk ikut bahagia.
Aku ga mau melihat kesedihan di hidupku. Karena jika yang kita rasa adalah kesedihan ya memang kesedihan lah adanya. Tapi alihkanlah kesedihan itu ….

Jangan lupa bahagia. Kalau memang lupa tidur saja…. 🙂 😉 😁
Selamat pagi kawan….

Ibuku Single Parent

10534686_777142945641077_3628579611764740437_n.jpg

Ibuku single parent.
Dulu sepeninggal ayahku ibu terlihat sedih. Air mata jatuh membasahi pipinya dan seketika itu ia merasa ada kekhawatiran dan ketakutan dalam diri bagaimana untuk kehidupan mendatang yang akan ia jalani sendiri, tanggung sendiri dan melakukan segala hal apapun sendiri.

Namun, ibuku dikuatkan oleh orang-orang dewasa yang berada disampingnya saat itu. Aku masih kecil tak mengerti bagaimana perasaan ibuku saat itu. Aku hanya merasa sedih karena ayahku pergi dan tak akan bisa melihatnya lagi.
Ya tentu aku menangis.
Namun tangisanku tidak berpengaruh apa-apa. Kesedihan itu tetap ada.

Setelah terlewati sudah kesedihan dihari itu. Ternyata ibuku segera beranjak dari kesedihannya. Ia tak lagi berlarut-larut menangisi apa yang sudah terjadi dalam kehidupan ini. Karena ia yakin akan ada rencana yang lebih indah dibalik sepeninggal ayahku. Allah itu maha segala-segalanya dan mengerti akan perasaan makhluknya.

Dan kini sepuluh tahun sudah ibu mampu melewati segala halang rintang kehidupan dalam membesarkan anak-anaknya dengan perjuangannya sendiri. Bukan satu anak yang ia urus sendiri. Lebih dari satu. Tepatnya enam anak . Namun, waktu itu empat anaklah yang mesti ia urus. Empat anak yang masih kecil-kecil dan harus ia penuhi kebutuhannya. Baik secara moril ataupun materil.

Meski ibuku tidak mempunyai banyak materi yang ia berikan untuk anak-anaknya namun dari kesederhanaan dan kesabarannya ia mampu memberikan rasa kasih dan sayangnya dengan ketulusan hati. Ia mampu mencukupi kebutuhan dasar anaknya. Kami masih bisa makan, masih bisa sekolah dan lain sebagainya. Memang apapun dilakukan oleh ibuku. Yang penting anaknya bisa makan dari hasil keringatnya sendiri tanpa mengemis dari orang lain.

Ibuku menjadi double peran. Peran sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah.
Aku melihat seorang pejuang di depan mataku sendiri. Melihat kegigihannya, melihat kesabarannya, melihat ketaatannya, melihat kesederhanaanya, melihat segala hal baik yg ada pada dirinya. Ia begitu mulia. Ia benar-benar pejuang tanpa pamrih bagi anak-anaknya. Meski memang aku belum bisa membalas kebaikan-kebaikannya. Meskipun aku perlahan membalasnya namun itu tidak sebanding dengan apa yang telah ibu berikan selama ini kepadaku.
Memang benar kasih ibu sepanjang masa. Namun kasih anak masih penuh tanda tanya…

Kini anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Dan sudah ada yg bisa mencukupi kebutuhannya sendiri.
Dan sudah menemukan jalan masing-masing untuk menempuh kebahagiaan.
Tentu hal itu tidak terlepas dari doa sang ibu.

Dari doa-doanya mampu mengantarkan anak-anaknya untuk terus melangkah dan berjuang dalam mengarungi suka duka kehidupan ini.
Dari doa-doanya lah yang mampu memberikan kekuatan. Kekuatan yang tak terlihat secara materi.
Semoga ibuku sehat selalu, dan bahagia hingga akhir masa..
Dan anak-anaknya mampu membahagiakannya….

Tak ada kata yang indah yang bisa aku rangkai untuk mengungkapkan kebaikan2 seorang ibu.Karena kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh setiap ibu kepada anaknya tidak akan terbatas oleh ruang dan waktu begitu pun dengan hanya sebuah tulisan. Tak cukup hanya itu…

Memang hari ibu tidak hanya diperingati dalam satu hari ini saja.
Hari ibu adalah setiap hari yang dilalui. Karena kita sebagai seorang anak tidak bisa terlepas dari yang namanya kasih sayang ibu. Setiap hari ibu mengasihi dan menyayangi anaknya…

Tapi tak apa ada satu momen yg dimana harus dimeriahkan.
Baik dari sekedar posting ucapan ke medsos, ucapan secara langsung silahkan saja…
Yg terpenting rasa sayang kita terhadap ibu kita tidak sekedar di medsos, namun memang sayang dalam dunia yang nyata juga..

“Selamat Hari Ibu”
Teruntuk ibuku sendiri dan teruntuk ibu-ibu hebat yang ada di dunia ini yang diciptakan sebagai malaikat nyata bagi anak-anaknya….

Thanks to Allah…

Seni dan Budaya untuk Kedaulatan Agraria

15578617_2149385421953788_7507163392762630454_n

Acara demi acara telah terlewati sudah. Kegiatan ini berlangsung 2 hari di Kampus IPB dengan gedung yang berbeda. Untuk hari pertama acara berlangsung di gedung Auditorium GMSK FEMA dan hari berikutnya di gedung Auditorium Toyib Hadiwijaya. Sambutan-sambutan dalam Acara seni dan budaya untuk kedaulatan agraria ini disampaikan oleh Bapak Dr. Satyawan Sunito selaku ketua pusat studi agraria IPB dan Dr. Tri Chandra Aprianto selaku ketua badan pengurus Sajogyo Institute lalu kemudian acara dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu indonesia raya. Namun, kali ini menyanyikan lagu indonesia raya dengan 3 stanza yang dimana menjadi hal yang pertama kali buat saya sendiri.

Penyampaian pemateri di sesi awal disampaikan oleh Bapak Gunawan Wiradi, Bapak H.s Dilon, Bapak Eko Cahyono, dan Bapak Endriatmo Sutanto yang membahas buku tentang Dimensi Kemiskinan Sajogyo. Dapat disimpulkan dalam sesi diskusi awal ini memberikan penegasan bahwa kemiskinan yang ada adalah kemiskinan yang diciptakan, kemiskinan yang terjadi karena ada struktur yang salah dan tidak bisa terlepas dengan masalah agraria terutama untuk di wilayah perdesaan tentang patron klayen atau hubungan-hubungan produksi yang terjadi. Oleh karena itu dari pihak Sajogyo Institute memberikan simpul pikirnya kepada peserta diskusi untuk :
1. Menarik semangat langitan ke bumi : menyapa dan menyentuh realitas nyata.
2. Menantang optimisme makro dengan pesimisme Mikro.
3. Kemiskinan tak bisa lepas dari persoalan agraria : kemiskinan struktural.
4. Ketegasan kepemihakan kelompok terlemah di pedesaan.
5. Berpolitik dengan pengetahuan.
5. Melanjutkan semangat De-kolonisasi (pengetahuan)

Berlanjut ke sesi kedua pada hari pertama dilakukannya refleksi musik oncom hideung & friends dari Bogor.
Setelah itu, sesi ketiga dilanjutkan dengan diskusi film tentang Jakarta Unfair yang diproduksi oleh Watchdoc. isi dari film dokumenter Jakarta Unfair itu menceritakan kembali tentang penggusuran-penggusuran yang terjadi di wilayah Jakarta, seperti kalijodo, bukit duri, pasar ikan, kampung akuarium. Dimana dari penggusuran-penggusuran tersebut dilakukannya relokasi tempat yang membuat terpisahkannya masyarakat dengan mata pencaharian yang sebelumnya menjadi ladang penghasilan untuk menyambung hidupnya.. Bukannya lebih membaik bahkan menjadi timbul masalah-masalah baru yang dialami oleh masyarakat yang terelokasi tempat tinggalnya. Berbicara tentang hal itu berarti berbicara tentang persoalan ruang hidup kalau kata bang Saluang selaku penulis buku dari sajogyo institute.

Dalam sesi ini ada 9 point yang menjadi titik relevansi dan refleksi bersama tentang :
1. Menegaskan kembali kemiskinan struktural berbasis agraria sebagai agenda prioritas.
2. Kritik “Politik of Ignorance” kebijakan pedesaan (dan kemiskinan) : Positioning sikap.
3. Jembatan “pemikiran kritis” : Negara- Masyarakat Sipil – Masyarakat.
4. Kebutuhan “Updating” basis data mikro dan meso pedesaan sebagai basis ketimpangan struktur agraria dan krisis agaria kekinian.
5. Bentuk-bentuk dan modus baru “pemiskinan” dan perampasan tanah (ruang hidup) masyarakat desa.
6. Berpolitik pengetahuan yang bagaimana? Di era kapitalisme pasar (Neoliberalisme?)
7. Melanjutkan pendalaman problem agaria struktural di desa-desa dataran tinggi, kepulauan pesisir, (Luar Jawa) dll.
8. Melanjutkan pendalaman problem agraria struktural pedesaan berkomunitas ” non padi sawah” (perkebunan, kehutanan, dll)
9. Menantang jawab atas “Revolusi Hijau” model baru (Food estate, bentuk-bentuk land Grabbing dan Green Grabbing, dst)

Kurang lebihnya seperti itu rangkaian acara untuk dihari pertama.

#Catatan hari pertama pada tanggal 15 Desember 2016 hari Kamis mulai Pukul 09.50 s/d selesai.
Hari kedua masih bersambung yaa…